Selasa, 16 Januari 2018

Pengalaman Pemetaan Drone di DAS Mandai - Kalis dan Bunut - Suruk

Pada Tahun 2015, saya melakukan pemetaan drone di Daerah Aliran Sungai Mandai Kalis dan Daerah Aliran Sungai Bunut Suruk. Saat itu saya bekerja di Salah Satu NGO, kebetulan kami mengelola Project Tropical Forest Conservation Act (TFCA Kalimantan).

Kegiatan ini merupakan pengalaman pertama saya dalam menggunakan Drone Untuk Pemetaan dimana unit yang kami gunakan adalah pesawat drone jenis Skywalker (Fixed Wing), sebenarnya ada banyak pilihan selain Skywalker, lebih lengkapnya anda bisa baca Daftar Drone yang cocok untuk pemetaan menggunakan Pix4D, namun karena wilayah yang ingin kami petakan mencapai ratusan ribu hektar, kami harus menggunakan model Fixed Wing.

Pengalaman Pemetaan Drone di DAS Mandai - Kalis dan Bunut - Suruk
Penerbangan Drone di Nanga Semangut

Tulisan ini bermaksud untuk mengedukasi penggunaan drone, harapan saya, dengan tulisan ini, pembaca mendapat pembelajaran terkait penggunaan drone untuk melakukan pemetaan. dan bisa mengaplikasikannya dalam aktivitas pembaca.

Objek dan Tujuan Pemetaan


Objek dari pemetaan ini adalah pemetaan Wilayah Administrasi desa, dimana desa - desa yang kami petakan, berdasarkan project ada 4 desa, yaitu Desa Bahenap Kecamatan Kalis, Desa Nanga Raun Kecamatan Kalis, Desa Selaup Kecamatan Bunut Hulu dan Desa Semangut Kecamatan Bunut Hulu.

Baca Juga ; 10 Manfaat dan kegunaan drone dalam berbagai bidang

Tujuan dari kegiatan pemetaan menggunakan drone ini adalah untuk melihat eksisting lahan atau tata ruang desa, sebab dengan peta drone, bisa dilakukan analisis tentang penggunaan lahan desa. Kemudian setelah diketahui penutupan lahan desa eksisting, kemudian akan dilakukan perencanaan pengelolaan yang lestari dan berkelanjutan, rencana ini tertuang dalam satu dokumen legal, yaitu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes).

Tantangan selama di lapangan


Selama dilapangan, dalam melakukan Pemetaan Drone ini, ada beberapa hambatan yang ditemui, baik masalah teknis maupun non teknis. Kondisi Geografis yang ada juga cukup menantang, dengan ketinggian gunung yang mencapai 1.400 Meter, membuat drone kami harus terbang dengan ketinggian +1.500 meter, ada 2 jenis ketinggian drone yang biasa kami gunakan, yaitu dengan cara Flat (rata, tidak berubah - ubah) dan jenis ketinggian turun naik mengikuti kontur permukaan. Dalam menentukan ketinggian drone ini, ada 3 Pertimbangan utama dalam menentukan ketinggian misi drone.

Selain kondisi geografis, cuaca ekstrim khas Hutan Hujan Kalimantan juga menjadi tantangan tersendiri bagi saya dan tim, mengingat drone ini harus bisa terbang untuk mengambil foto. jadi foto kalau pada masa kabut, kami tidak bisa melakukan penerbangan drone, dan harus menunggu cuaca cerah.

Selain kabut, hujan dan mendung juga kerap menjadi hambatan kami dalam melakukan pemetaan, di pedalaman, ketersediaan listrik juga sangat dibutuhkan, apalagi saat itu saya menggunakan laptop dengan Baterai yang relatif boros. Oh ya bagi anda yang ingin mencari Laptop yang tidak boros, saya sarankan anda untuk membaca artikel saya berjudul ASUS X550IK - Laptop yang pas sebagai GCS Drone Untuk Pemetaan,  Karena selain hemat baterai, laptop ASUS X550IK ini mampu menjalankan Software yang dibutuhkan dalam pemetaan menggunakan drone.

Artikel Terkait